 |
| Bulan biru (blue moon). Image credit: scienceblogs.com |
Bulan Biru atau
Blue Moon didefinisikan sebagai purnama kedua yang terjadi dalam satu
Bulan yang sama.
Bulan Biru pernah terjadi pada 31 Juli 2004 dan 31 Desember 2009.
Bulan Biru biasanya terjadi setiap 2,5 tahun dan hanya sekali dalam setahun. Namun, dalam periode 19 tahun sekali,
Bulan Biru bisa terjadi dua kali dalam setahun. Pada 1999, misalnya,
Bulan biru terjadi pada
Bulan Januari dan Maret.
Terjadinya
Bulan Biru berkaitan dengan lama penanggalan Masehi dan
Bulan. Satu tahun dalam kalender Masehi berjumlah 365 hari, sementara dalam kalender
Bulan 354 hari. Sisa hari akan diakumulasikan sehingga pada tahun tertentu akan terjadi dua purnama dalam sebulan.
Penyebab terjadinya dua kali
Bulan Biru dalam setahun juga berkaitan dengan penanggalan. Sejarah mencatat, biasanya dua Blue Moon dalam setahun terjadi pada
Bulan Januari dan Maret.
Blue Moon dalam
Bulan Januari terjadi menjelang akhir
Bulan. Karena Februari umumnya berjumlah 28 hari, maka pada
Bulan
itu tak ada purnama sama sekali. Purnama selanjutnya baru terjadi pada
awal Maret. Blue Moon pada Maret bisa terjadi karena Maret berjumlah 31
hari.
Bulan Biru Nyata
Bulan Biru biasanya dianggap sebagai kiasan karena sebenarnya
Bulan memang tidak tanmpak berwarna biru. Istilah
Bulan Biru diberikan karena fenomena purnama dua kali dalam sebulan jarang terjadi. Meski demikian, sejarah juga mencatat bahwa
Bulan Biru itu nyata. Artinya,
Bulan memang tampak kebiruan.
Astronom Ma'rufin Sudibyo mengatakan,
Bulan yang berwarna biru pernah terjadi pada tahun 1992, tepatnya saat terjadi gerhana
Bulan 9 Desember 1992. Ma'rufin menjelaskan, sebagian kecil cakram
Bulan saat gerhana tampak kebiruan. Adapun bagian lain tampak gelap, bukan kemerahan seperti biasanya.
Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan letusan Gunung
Pinatubo. "Richard Keen, peneliti yang merekapitulasi citra Gerhana
Bulan Total sejak masa Gunung Agung, mengatakan bahwa saat Gerhana
Bulan total 1992 (bulan berwarna kebiruan) alasannya karena hamburan
Matahari oleh ozon," jelas Ma'rufin.
Situs NASA menyebutkan bahwa
Bulan
yang tampak biru disebabkan oleh adanya partikel yang lebih besar dari
panjang gelombang warna merah (0,7 mikron). Partikel tersebut bisa
bersumber dari abu letusan gunung berapi.
Bulan Biru paling fenomenal yang tercatat sejarah terjadi saat letusan Krakatau tahun 1883. Tidak hanya saat gerhana,
Bulan juga tampak kebiruan setiap malam, entah sabit, separuh, ataupun purnama.
Berdasarkan penjelasan di situs NASA,
Bulan
berwarna biru tersebut terjadi selama bertahun-tahun sesudah letusan.
Debu letusan Krakatau mengotori atmosfer dan menyebabkan sinar putih
yang biasanya diperlihatkan
Bulan tampak biru.
Bulan Biru juga terjadi setelah letusan Gunung St. Helen pada 1980 dan Gunung El Chicon di Meksiko tahun 1983.
Gerhana 10 Desember dan Bulan Biru
Contoh terakhir
Bulan yang tampak kebiruan terjadi pada Sabtu (10/12/2011) malam, saat Gerhana
Bulan
Total memasuki totalitas sekitar pukul 21.07 - 21.57 WIB. Ma'rufin yang
mengamati fenomena tersebut dari Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa
Tengah.
Ia mengatakan bahwa
Bulan
yang berwarna kebiruan teramati oleh dua teleskop berbeda. Warna
kebiruan cenderung menumpuk di satu titik. Berbeda dari gerhana
Bulan total 1992, warna kebiruan pada gerhana kali ini dihiasi oleh warna merah pada bagian cakram
Bulan yang lain.
Apa sebab
Bulan
yang tampak biru kali ini? Beberapa waktu lalu Gunung Merapi di
Yogyakarta memang sempat meletus. Namun, Ma'rufin menguraikan bahwa
warna kebiruan yang tampak tidak berkaitan dengan abu vulkanik Merapi.
Buktinya,
Bulan masih tampak kemerahan semalam.
Bulan dengan kelir kebiruan yang terjadi semalam tidak teramati di
tempat selain Gombong. Oleh sebab itu, belum diketahui apakah fenomena
tersebut lokal atau ekstraterestrial. Dengan demikian, belum tahu pasti
sebab munculnya warna kebiruan.
"Itu yang masih misterius bagi saya. Satu hipotesa saat ini sih, kemungkinan itu cahaya hasil hamburan ozon," kata Ma'rufin.
Satu yang pasti, fenomena
Bulan yang tampak kebiruan bukan hanya kiasan, melainkan nyata terjadi.