Blogger templates

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 12 Maret 2014

Ilmuwan Temukan Es di Kawah Shackleton Bulan

Kawah Shackleton di Bulan. Image credit: NASA
Jika manusia ingin menjadikan Bulan sebagai tempat kediaman, mungkin daerah kutub Bulan menjadi salah satu pilihan tempat yang cocok sebab pada poros Bulan ada daerah yang menerima sinar Matahari secara tetap dan itu bisa dimanfaatkan sebagai sumber tenaga serta daerah gelap yang sama sekali tidak mendapat sinar Matahari dimana di situ terdapat es yang keduanya bisa dijadikan sumber untuk berdirinya sebuah koloni manusia.

Area di sekitar kawah Shackleton merupakan tempat yang utama sebab para ilmuwan memperkirakan bahwa di sana terdapat ngarai sebagai tempat penampungan air yang membeku. Namun observasi yang kurang dalam beberapa dekade terakhir ini menyebabkan ilmuwan merasa ragu apakah benar-benar ada es di kawah tersebut yang sekaligus sebagai kutub selatan Bulan.

Seperti dikutip astronomi.us dari space-travel.com, Sabtu (23/06/2012), Saat ini ilmuwan dari MIT, Brown University, NASA's Goddard Space Flight Center, dan beberapa lembaga penelitian lainnya sedang memetakan kawah Shackleton dengan detail untuk menemukan bukti adanya sejumlah kecil es di dasar kawah.

Dengan menggunakan laser pengukur ketinggian pada wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) , tim peneliti akan dapat mengukur faktor refleksi alami dari kawah. Dan hasilnya dasar kawah lebih terang dari pada disekitarnya dan ilmuwan menyimpulkan adanya es di dasar kawah Shackleton.

Penamaan kawan Shackleton sendiri diambil dari nama penjelajah Antartika Ernest Shackleton. Kawah ini memiliki diameter 12 mil (19,3 km) dan kedalaman sekitar 2,6 mil (4,1 km). Interior kawah sendiri tidak rata dan itu menyebabkan sulit untuk dijelajahi.

LRO Ambil Foto Jejak Batu Menggelinding di Permukaan Bulan

Foto jejak batu menggelinding di permukaan Bulan yang diambil oleh wahana Lunar Reconnaissance Orbiter NASA. Image credit: ASA/GSFC/Arizona State University
Kamera wahana pengorbit Bulan Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) berhasil mengambil foto sebuah jejak batu yang menggelinding di permukaan Bulan. Batu yang berukuran 9 meter tersebut menggelinding di permukaan Bulan dan menghasilkan jejak di tanah berupa garis lurus bergelombang. Para astronom memperkirakan bahwa jejak batu menggelinding tersebut berusia 50-100 juta tahun. Itu artinya batu tersebut menggelinding dan membentuk jejak tersebut pada sekitar 50-100 juta tahun yang lalu.

Mungkin hal tersebut terdengar sangat lama bagi skala waktu manusia, namun tidak bagi Bulan. Jejak batu tersebut akan terus ada di sana dalam puluhan juta tahun ke depan sebelum akhirnya terhapus oleh efek mikrometeorit.

Apa yang menyebabkan batu itu menggelinding?. Dikutip astronomi.us dari universetoday.com, Rabu (18/07/2012), Ilmuwan dari LROC, James Ashley berpendapat bahwa kemungkinan batu ini terkena efek getaran tanah disekitarnya yang disebabkan oleh Meteorit kecil yang menabrak Bulan.

Bendera Amerika Masih Berdiri di Permukaan Bulan

Bayangan bendera masih tampak di dekat situs pendaratan Apollo 17. Image credit: NASA/GSFC/Arizona State University
Mark Robinson, seorang investigator dari Lunar Reconnaisance Orbiter Camera (LROC) mengungkapkan bahwa banyak orang yang bertanya foto apakah yang diambil oleh LRO di permukaan Bulan, dan apa yang terlihat di sana? Mereka ingin tahu apakah bendera Amerika di sana masih ada?

Tiang bendera yang dulu pernah ditancapkan pada misi Apollo ternyata masih berdiri tegak hingga saat ini dan menciptakan bayangan di permukaan Bulan. Robinson sendiri terkejut mengingat Bulan sendiri memiliki tingkat radiasi luar angkasa sangat tinggi dan kondisi permukaan yang ekstrim.

"Secara pribadi saya sedikit terkejut bahwa bendera tersebut mampu bertahan dari paparan sinar ultraviolet yang tinggi dan suhu permukaan Bulan," ungkap Mark Robinson seperti yang ditulis di website LROC. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah bendera tersebut rusak atau memudar?
Bayangan bendera masih nampak di situs Apollo 16. Image credit: NASA/GSFC/Arizona State University
Dikutip astronomi.us dari universetoday.com, Senin (30/07/2012), James Fincannon, seorang insinyur NASA dari Glenn Research Center, mengkombinasikan gambar dari LROC di setiap tempat dan orientasi yang sama namun dari sudut arah Matahari yang berbeda untuk menunjukkan perjalanan bayangan.

"Dengan mengkombinasikan peta situs Apollo diketahui di mana letak bendera tersebut berada dan bayangan bendera nampak di tiga lokasi hal ini menunjukkan bahwa bendera tersebut masih ada," ungkap Fincannon.

Bendera Amerika masih nampak dan berdiri di semua situs kecuali Apollo 11 dimana astronot Buzz Aldrin melaporkan bahwa bendera itu tumbang karena knalpot dari mesin saat lepas landas dari Apollo 11, dan Robinson mengatakan bahwa apa yang dilaporkan Buzz Aldrin itu benar.

Ilmuwan Temukan Gas Helium di Atmosfer Bulan

NASA's Lunar Reconnaissance Orbiter. Image credit: space-travel.com
Ilmuwan dengan menggunakan Lyman Alpha Mapping Project (LAMP) yang terpasang pada NASA's Lunar Reconnaissance Orbiter berhasil menemukan gas Helium di atmosfer Bulan. Hal ini sebagai penguat bukti percobaan Lunar Atmosphere Composition Experiment (LACE) pada tahun 1972 yang dilakukan oleh Astronot pada misi Apollo 17.

Penemuan itu didapat setelah ilmuwan melakukan penelitian terhadap emisi ultraviolet yang terlihat di atmosfer di atas permukaan Bulan.

"Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah apakah Helium tersebut berasal dari dalam Bulan? Apakah gas tersebut dihasilkan dari peluruhan radioaktif dari dalam batu, ataukah dari sumber luar seperti angin Matahari (solar wind)?," ucap Dr Alan Stern, peneliti utama dari Southwest Research Institute seperti yang dikutip astronomi.us dari space-travel.com, Sabtu (18/08/2012).

Penelitian lain yang dilakukan oleh Dr Paul Feldman dari Johns Hopkins University menunjukkan bahwa jumlah Helium yang ada bisa berbeda-beda, dipengaruhi oleh angin Matahari.  Saat Bulan melintas di belakang Bumi dan terhalang oleh angin Matahari, jumlah Helium jadi menurun.

"Jika hal itu dipengaruhi oleh angin surya / angin Matahari, maka hal itu akan menjadi petunjuk bagi kita bahwa proses yang sama juga pada obyek luar angkasa yang lain," ucap Stern.

Namun jika pengamatan yang dilakukan oleh LAMP tidak menunjukkan hubungan angin Matahari dengan Helium di atmosfer Bulan, maka peluruhan radioaktif atau sebuah proses di dalam "tubuh" Bulan merupakan asal muasal dari Helium tersebut, contohnya seperti gempa di permukaan Bulan.

Selain Helium, pada tahun 1972, Lunar Atmosphere Composition Experiment (LACE) juga menemukan gas argon di permukaan Bulan.

Air di Bulan Berasal dari Matahari

Air tampak keluar dari kawah Cabeus di Bulan sesaat setelah roket Centaur menghujam tempat tersebut pada tahun 2009. Image credit: AAAS
Kandungan air yang saat ini diketahui berada di tanah dan batuan Bulan telah menimbulkan banyak pertanyaan di benak para ilmuwan. Air tersebut pertama kali dideteksi oleh dampak dari roket Centaur pada misi LCROSS pada tahun 2009.

Nampaknya sakarang ilmuwan sudah menemukan sedikit petunjuk. berdasarkan penelitian spektroskopi yang dilakukan pada sampel yang diambil pada misi Apollo didapatkan bahwa sejumlah besar hidroksil pada partikel kaca mikroskopis ditemukan di dalam tanah Bulan. Diperkirakan hal itu sebagai dampak dari micrometeorite (meteorit mikro).

Menurut tim peneliti, air hidroksil dalam partikel kaca mikroskopis ini berasal dari interaksi proton dengan ion hdrogen dari angin Matahari. Hirdoksil merupakan pasangan dari atom oksigen tunggal untuk atom hidrogen tunggal (OH). Setiap molekul air mengandung dua gugs hidroksil.

meskipun partikel kaca mikroskopis tersebut tersebar di permukaan Bulan, peneliti mempelajari kembali sampel dari misi Apollo 11, 16, dan 17. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak angin Matahari yang membawa hidroksil kemungkinan juga terjadi di Merkurius, Vesta, dan sebagainya. Hal ini sebelumnya tidak disangka-sangka bahwa ternyata di Bulan terdapat reservoir air. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal online Nature Geoscience.